KadinSelasa, 24 November 2020


Kadin Bali Bentuk Koperasi Karya Sajeng Bali


BALI – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) terus mendorong pertumbuhan usaha-usaha rakyat. Seperti yang dilakukan Kadin Tabanan kepada para petani Tuak di wilayahnya. Agar pemasarannya lebih mudah, Kadin membentuk koperasi yang diberi nama Karya Sajeng Bali.


Melalui koperasi tersebut, tuak hasil panen petani akan dibeli, lalu disuling menjadi arak di pabrik yang sudah ditunjuk Pemprov Bali.


Pembentukan koperasi, kata Ketua Kadin Tabanan I Ketut Loka Antara, mengacu dengan Pergub Nomor 01 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi atau Destilasi Khas Bali.


“Artinya ada payung hukumnya dengan keberadaan koperasi ini, apalagi kita melihat potensi yang ada di Tabanan wilayah barat seperti Belimbing, Karyasari, Wanagiri, dan sekitarnya berupa Tuak Jaka,” paparnya dikutip dari Baliexpress, Senin (23/11).


Banyak keuntungan untuk para petani yang bergabung dalam koperasi Karya Sajeng Bali. Selain lebih mudah memasarkan produknya, mereka juga diberikan pelatihan terkait kualitas produk agar bisa terus terjaga, sesuai standarisasi, dan konsisten.


Koperasi akan melakukan kesepakatan dengan anggota perihal pemasaran produk. Lalu, koperasi akan membuat nota kesepahaman dengan pabrik-pabrik resmi yang sudah ditunjuk Gubernur Bali. 


Pengemasan dan pendistribusiannya, lanjutnya, juga akan dilakukan oleh pabrikan itu, sesuai dengan aturan pemerintah. “Kapasitas koperasi hanya sampai mengambil bahan baku dari petani untuk diserahkan ke pabrikan dan disuling menjadi Arak, setelah disuling didistribusikan dengan bea cukai,” papar Loka Antara.


Hingga saat ini baru ada 27 orang petani yang mendaftarkan diri untuk bergabung ke koperasi tersebut.  27 orang itu berasal dari 4 kelompok yang ada di Desa Belimbing dan Karyasari, Kecamatan Pupuan, Tabanan.


Sementara, koperasi bertempat di Desa Bantas, Selemadeg Timur, namun kedepan koperasi juga akan dibentuk di Marga, Penebel, Wangaya Gede, Sribupati, Cau Belayu, dan sekitarnya. Minimal satu koperasi di setiap kabupaten.


“Dari hasil penjajakan, rata-rata satu kelompok petani Tuak menghasilkan 100-150 liter per hari. Bila dijadikan gula, mereka tentu butuh ongkos produksi tambahan. Harga hanya Rp 4.000. Pemasarannya juga hanya sewaktu-waktu. Namun, setelah ada nota kesepahaman, harga tuak diharapkan bisa Rp 5.000. Petani tidak mengeluarkan ongkos produksi lagi,” paparnya.


Terkait dengan adanya rancangan Undang-Undang Minuman Beralkohol, Loka Antara berharap Bali menjadi wilayah istimewa karena merupakan daerah pariwisata yang sudah sangat ternama di dunia. “Apalagi Pak Gubernur rencananya menjadikan arak sebagai welcome drink. Jangan sampai itu kena UU," tandasnya. 

Berita Terbaru
Update Corona: Per 26 Januari, Kasus Corona di Indonesia Tembus 1 Juta
Ilustrasi - Covid-19. Shutterstock.
SelengkapnyaKadin