Kadin Talks EP.4 Perry Warjiyo

Kadin Tuesday, 27 August 2019

Kadin Talks - Perry Warjiyo, Buah Kegigihan Sang Gubernur

 

Perry Warjiyo adalah contoh pejabat negara yang patut diapresiasi para pelaku usaha. Alasannya sebenarnya cukup sederhana, tapi jarang dilakukan. Alasan tersebut adalah memandang pelaku usaha sebagai mitra pemerintah dalam pengambilan kebijakan. Tak berselang lama setelah pelantikannya sebagai Gubernur Bank Indonesia, dia menghubungi Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani.

“Saya Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia yang baru. Saya akan mengeluarkan beberapa kebijakan yang berkaitan dengan dunia usaha. Karena itu, sebelumnya, saya ingin bertemu dan mendiskusikan kebijakan itu dengan Kadin terlebih dahulu,” ungkap Rosan Roeslani mengutip percakapan via telepon dengan Perry Warjiyo yang disampaikan dalam acara Kadin Talks, di Menara Kadin Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019.

Kepada pengurus Kadin yang hadir dalam acara tersebut, Rosan mengungkapkan keterkejutannya. Pasalnya, hal seperti itu jarang dia alami sejak pertama kali menjabat posisi pimpinan Kadin pada 2015 silam. Dia katakan, lazimnya dialah yang menghubungi pejabat terkait, memperkenalkan diri dan meminta kesediaan bertemu untuk mendiskusikan kebijakan tertentu.

Ketum Kadin memandang pendekatan yang dilakukan Perry Warjiyo yang mengedepankan kesepahaman seluruh pemangku kepentingan dalam mengeluarkan kebijakan akan memudahkan dalam tahap implementasi. “Beliau paham bahwa kebijakan yang berhubungan dengan dunia usaha akan lebih optimal dalam implementasi,” ujar Rosan.

Pria asal Gawok, Kartasura, Jawa Tengah ini mengungkapkan pola pendekatan guyub-rukun  sudah menjadi bagian dari sikap personal dalam pengambilan keputusan. Pendekatan tersebut merupakan bagian dari pelajaran hidup yang diwarisi dari keluarganya. Perry mengisahkan, ayahnya adalah seorang pamong desa, dengan peran sebagai kabayan desa atau pamong yang bertugas mengatur irigasi ke persawahan warga. Supaya bisa mengatur pembagian secara adil, bapaknya sering mengumpulkan para petani, berembug dan mendengarkan pandangan mereka.

“Kebiasaan rembug, guyub-rukun, dan sinergi inilah yang saya pegang hingga kini. Saya selalu wanti-wanti ke staf, sebagai policy-maker, sebelum mengambil kebijakan selalu bicara dan tes dulu dengan pelakunya,” kata Perry.

Gubernur Bank Sentral mencontohkan saat beberapa waktu lalu BI ingin mengeluarkan kebijakan makro prudential yang berkaitan dengan pelonggaran uang muka. Kebijakan tersebut terarah pada sektor perbankan nasional, terutama pada rasio kredit terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) atau Loan to Deposit Ratio (LDR). Namun, tujuan kebijakan itu adalah menstimulasi sektor properti. Karena itu, dia memandang penting untuk membicarakan hal tersebut dengan para pelaku usaha, khususnya dunia properti nasional.

Pejabat karir di Bank Indonesia ini mengungkapkan adalah lima resep yang menjadi acuan bank sentral dalam menjalankan perannya. Resep tersebut disebut Perry sebagai “Ilmu Jamu”. Dia menjelaskan, ada lima resep jamu yang selalu dipakai BI, yaitu 1) Kebijakan Suku Bunga, 2) Stabilitas Nilai Tukar, 3) Kebijakan Makroprudential, 4) Pembiayaan ekonomi mikro (bekerjasama dengan OJK), dan 5) Digital Economy.

Perry melanjutkan, kebijakan BI saat ini tidak lagi mendikotomikan opsi pro stabilitas atau pro growth. Keduanya dijalankan secara bersama dengan prioritas berbeda. Untuk mengatasi tantangan yang muncul, tinggal disodorkan salah satu dari lima resep BI tadi. Dia mencontohkan, pada 2018 FED Fund Rate mengalami kenaikan sebanyak empat kali. Maka wajar jika BI tidak mengambil kebijakan menurunkan suku bunga. Tujuannya untuk menjaga stabilitas. Namun, pada saat yang sama, empat resep lain harus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan (pro growth)

“Tapi jangan khawatir. Satu jamu pahit suku bunga, kami lawan dengan empat jamu manis lain. Makanya, tahun lalu, misalnya, kita kendorkan likuiditas, uang muka dikendorkan,” urai Perry.

Pada acara Kadin Talks  tersebut, alumnus UGM ini juga memberikan kenang-kenangan berupa buku karyanya  yang berjudul “Central Bank Policy – Theory & Practice”.

Share